Pengaruh Pikiran terhadap jatidiri
Dr. Caroline
Mays menulis dalam bukunya yang berjudul Why
people get sick and can’ healing? (Mengapa orang sakit dan tidak bisa
diobati) “Jatidiri seringkali menjadi sebab dasar bahagia atau sengsaranya
seseorang. Sebab orang berbuat berdasarkan sentiment dan sensitivitasnya. Padahal
hanya orang itu sendirilah yang bisa menerima atau menolak apa yang terjadi
terhadap dirinya sendiri” Dr. Natanien Brandon, seorang dokter anatomi yang
mempunyai keahlian dalam hal jati diri menyebutkan, “Jatidiri yang lemah
menjadi sebab pokok di belakang kecanduan dan berbagai perilaku negative.”
Kehilangan jatidiri bisa terjadi pada seseorang
disebabkan oleh banyak factor dan yang paling berbahaya adalah hilangnya cinta
kasih. Ketika seseorang merasa bahwa dia tidak dicintai, hilanglah
keseimbangannya, lalu dia akan mencari pelarian untuk mengantikan rasa cinta
itu. Diantara pelarian yang sering diambil orang adalah narkoba, alkohol, dan
perilaku negative lain yang dilarang oleh agama. Ada juga yang memilih
menghabiskan waktu di depan televise, menutup diri dari pergaulan, tidur
berkepanjangan, atau belanja untuk hal-hal yang tidak diperlukan. Dan hanya
sekedar menuruti kesenangannya berbelanja.
Hilangnya rasa dicintai pada seseorang juga mengakibatkan
perasaan kesepian dan seakan dia telah ditenggelemkan oleh semua orang. Jadilah
dirinya sebagai pribadi yang kehilangan identitas, baik di matanya sendiri,
lebih-lebih di mata orang lain.
Apakah jatidiri itu? Jatidiri adalah rasa seseorang
terhadap dirinya sendiri, persepsinya terhadap diri sendiri, dan yang didengar
dari dirinya sendiri. Jatidiri terdiri dari 3 unsur dasar.
1.
Penerimaan diri : Seseorang harus bisa menerima diri apa adanya. Dengan begitu
dia tidak akan melihat ada bagian dari dirinya yang tidak disenanginya, baik
secara fisik maupun psikis. Menerima keluarga apa adanya akan menjadikan orang
tidak melihat ada bagian dalam keluarganya yang tidak menyayanginya, sampai dia
berharap menjadi bagian dari keluarga lain.
2.
Nilai diri : Dalam hal ini orang harus yakin
bahwa dirinya bernilai dan bahwa dirinya merupakan bagian penting dalam
komunitas yang ada. Orang harus merasa memiliki kemampuan untuk mengambil
keputusan apakah ia menerima atau menolaknya. Dia juga harus merasa bahwa
hidupnya penuh dengan makna dan apa yang dilakukannya memang bermanfaat dan
penting.
3.
Cinta sejati : Cinta sejati adalah anugerah dari Allah swt. Seberapa
pun tingginya, berwarna apa pun kulitnya, dan seperti apa pun rupa orangnya,
dia akan mencintainya apa adanya. Diantara sebab dasar ada tidaknya cinta sejati
adalah pemprograman awal yang diinstal kepada seorang anak dari orang tuanya
yang akan terus dibawanya dalam hidup dan berhubungan dengan dunia luar. Sebab dasar
cinta sejati terletak pada akal batin berupa pikiran yang dipakai pada masa
awalnya, untuk merubah jatidirinya sehubungan dengan cinta sejati juga harus
merubah pemikirannya terlebih dahulu.



Komentar