Mandiri vs Mufakat


     
  Mengawali daftar judul diatas, pria dirancang sedemikian rupa untuk mandiri dan superior ( karena tugas-tuga mereka di masa lalu, seperti berburu, melindungi, berperang, dan lain sebagainya). Sebaliknya, karena bertanggung jawab pada masalah relasi dan dianggap kurang penting ( karena peran yang kurang jelas dalam mempertahankan hidup untuk membantu dominasi pria), wanita lebih dirancang untuk bermufakat dan inferior. Sebaiknya semua itu setara.

    Bayangkan ritual makanan malam keluarga saya. Saat saya kecil, dengan enam orang saudara kandung, makan malam bersama merupakan sebuah norma. Ayah dan Ibu duduk di ujung meja yang berseberangan dan anak-anak mengisi setiap sisi meja. Ibu memberikan piring ke Ayah, ayah mengambil makanan sendiri, kemudian menyodorkan makanan ke anak-anak dan ibu. Apakah saya peduli tidak dilayani pertama kali? Jelas tentu tidak. Namun, pesan utamanya adalah bahwa pria lebih penting. Saat makan hidangan pencuci mulut, ayah mendapat garpu bersih, sementara yang lainnya menjilati sisa makanan pada garpu dan memakainya kembali. Sekali lagi, pesan bahwa pria lebih penting daripada anak-anak dan wanita. Sekarang masyarakat lebih mengerti. Namun, hal ini telah menjadi bagian tabiat kehidupan kita selama ribuan tahun dan tidak akan menghilang sampai kapan pun.

   Setiap pria pasti tidak akan meminta maaf sesering wanita. Superioritas mengarahkan pada karakteristik ini. Salah satu contohnya adalah seorang teman pengacara wanita di media yang saya tonton harus melaporkan ke seseorang pria. Sebelum pergi kerja, ia meminta atasannya itu untuk menghubungkannya ke seorang klien dan menentukan tingkat otoritasnya untuk mediasi yang dijadwalkan pada hari ia kembali dari kerjanya. Ini sebetulnya biasa saja, bukan. Tidak ada sesuatu yang aneh pada permintaan temannya itu.

   Pada hari pertemuan mediasi yang sudah dijadwalkan sebelumnya, ia tegang sekali, mediasi seharusnya dimulai tidak sampai satu jam lagi dan ia tidak mendapat penjelasan apa pun dari atasannya saat pria tersebut datang terlambat ke kantor. Akhirnya, ia muncul, menelusuri seluruh objek pembicaraan dan membiarkan ia yang membuat keputusan tanpa konsultasi atau persetujuan dari klien. Ia lupa menghubungi klien tersebut, tidak pernah mengakuinya, dan tidak pernah meminta maaf atas kekhilafannya. Ia mengatakan kepada saya bahwa keesokan harinya atasannya itu menghindari orang ini seolah-olah ia kuman segala penyakit. Rasa bersalahlah yang membuatnya tampak bodoh sekali. Apakah orang ini terjadi? tentu tidak. Ia mungkin seorang pengacara yang unggul dan berprestasi dalam masalah prosese pengadilan, akan tetapi ia tetap membenci konflik dan konfrontasi.

     Perwujudan lain sifat pria yang suka bekerja sendiri terbukti dalam definisi mereka tentang tanggung jawab. Penulis Anne Wilson Schaef dalam bukunya Women's Reality menjelaskan bahwa pria menganggap tanggung jawab sebagai sesuatu yang amat-amat penting. saat ada sesuatu yang salah, orang yang bertanggung jawab harus disalahkan. Wanita cenderung melihat orang yang bertanggung jawab sebagai seseorang yang bisa dan akan merespons saat sesuatu harus dilakukan. tuduhan jarang dilibatkan di sini.

Komentar

Postingan Populer